Posts Tagged ‘business plan’
Membuat business plan….(lagi)
Setelah pergantian tahun, saya pikir sudah tidak ada lagi tugas-tugas perencanaan tahunan yang menyita waktu hampir dua bulan terakhir penghujung tahun 2007. Perencanaan yang paling bikin pusing waktu itu adalah membuat business plan untuk layanan online, terutama pada bagian menerjemahkan visi-misi-action plan dalam PowerPoint ke dalam bahasa keuangan di Excel.
Ternyata masih ada satu business plan lagi yang harus saya buat, kali ini untuk layanan mobile. Ini lebih sulit dibandingkan layanan online karena masih relatif baru di Indonesia sehingga sulit mendapatkan data-data lokal. Dari penelusuran di Google, ternyata model bisnis layanan online dan mobile itu juga ada perbedaan, demikian dengan teknologinya. Layanan mobile teknologinya jauh lebih rumit daripada layanan online.
Kalau data-data yang kita gunakan dalam business plan tidak bisa diandalkan, maka bisnis yang akan kita rencanakan termasuk bisnis berisiko tinggi. Namun menurut saya, kesulitan mencari data yang akurat itu wajar saja dalam bisnis yang berbasis teknologi, apalagi yang mengandalkan teknologi relatif baru. Namanya juga sesuatu yang baru.
Nah, kalau bisnis kita tergolong berisiko tinggi, maka dalam business plan harus dijelaskan betul risikonya dan bagaimana mengelola dan menanggulanginya. Tingkat risiko ini lalu jangan disamakan dengan tingkat kelayakan bisnis. Bisnis yang berisiko tinggi belum tentu tidak layak (feasible). Dari logika bisnisnya bisa saja sebuah bisnis itu sebenarnya layak dijalankan, hanya saja asumsi-asumsinya bisa meleset karena itu tadi, ketiadaan data. Dan ini yang harus dijelaskan kepada calon investor.
Merencanakan bisnis: antara visi dan realitas
Senang bisa kembali nge-blog setelah hampir satu bulan tidak sempat posting. Harap maklum, bulan-bulan menjelang akhir tahun ini adalah masa-masa perencanaan 2008, termasuk anggaran belanja dan proyeksi pendapatan. Membuat perencanaan ini sangat mudah, boleh sedikit berkhayal tentang program dan rencana pengembangan produk yang akan dikerjakan tahun depan. Nongkrong di depan laptop sambil minum kopi pun jadi, hanya butuh beberapa jam saja.
Namun begitu masuk anggaran, yakni ‘meng-angka-kan’ rencana-rencana itu dan proyeksi pendapatan, bukan main sulitnya. Hal ini semakin sulit jika data tidak tersedia secara seketika, atau harus menunggu dari divisi yang lain. Butuh konsentrasi penuh. Ibaratnya kalau dalam menulis kita masih bisa diganggu sebentar, tidak demikian halnya dengan membuat anggaran. Salah pada satu hal saja bisa merembet ke yang lain.
Dari pengalaman ini saya belajar bahwa ada perbedaan besar antara MS Powerpoint dan MS Excel –dua software yang saya pakai membuat perencanaan. Di Powerpoint, rencana-rencana bisnis bisa tampil sangat bagus, menarik, muluk-muluk dan meyakinkan. Presentasi Powerpoint yang bagus bahkan bisa memukau banyak orang dan mengundang tepuk tangan.
Tapi rencana-rencana itu bisa terlihat lain ketika masuk ke MS Excel, tidak sebagus seperti di Powerpoint. Jika Powerpoint ini berkhayal, Excel itu realistis. Dalam banyak kasus, seringkali perencanaan yang tampil mentereng di Powerpoint berakhir dengan angka merah dalam kurung, atau angka minus di Excel yang artinya rencana itu tidak feasible. Ada jurang yang lebar antara Powerpoint dan Excel, antara khayalan dan realita bisnis. Celakanya, seringkali saya memergoki perencanaan seperti itu: bagus di Powerpoint tapi jadi jelek di Excel.
Bukan berarti Powerpoint itu tidak berguna. Sebuah perencanaan bisnis yang hanya disajikan dalam Powerpoint hanyalah omong kosong. Sebaliknya bermodalkan Excel saja membuat angka-angka di dalamnya kehilangan konteks karena hanya peduli minus atau plus, dan seolah-olah membuat perencanaan tanpa visi, hanya sekedar angka-angka saja, hambar, tidak ada nuansa, semangat dan ambisi.
Jadi, perencanaan bisnis yang baik adalah yang mampu mempersempit kesenjangan antara Powerpoint dan Excel. Boleh berangan-angan dan ambisius, tapi harus realistis.
