TCP-IP: Deriz

Information Technology | Digital Media | E-Business

Archive for April 2009

Strategi Facebook untuk kampanye Capres

without comments

Tantangan terbesar bagi kandidat capres adalah berkomunikasi secara efektif dalam hal pemilihan medium dan pesan (konten). Medium tradisional seperti media cetak, elektronik dan luar ruang efektif dalam hal jangkauan, tetapi tidak menjamin pesan menancap di kepala target audience.

Dalam hal konten, tantangannya adalah memberikan pesan yang tepat dan kontekstual dengan target. Sulit menemukan pesan yang kontekstual jika kandidat hanya merenungkan dan merapatkannya bersama tim. Akan lebih efektif jika berdialog langsung dengan target audience, menggali minat dan kebutuhan mereka.

Facebook bisa menyediakan berbagai fasilitas yang mendorong aktivitas sosial di dunia maya. Komunikasi bisa lebih efektif karena audience terlibat dalam prosesnya. Selain itu, Facebook memungkinkan kandidat capres berdialog dengan target audience dan menerima umpan balik dari mereka.

Masalah kredibilitas
Namun, masalah utama Facebook adalah siapa pun bisa membuat sendiri Profile, Page atau Group yang seolah-olah merepresentasikan kandidat capres dan opininya. Untuk itu, sangat penting untuk membangun dan memperkuat kredibilitas atas setiap aktivitas yang dilakukan via Facebook.

Kredibilitas ini dimulai dari kandidatnya sendiri. Mereka harus mempromosikan dan menghubungkan eksistensi virtual mereka di Facebook dalam aktivitas di dunia nyata, ketika berkampanye, wawancara media atau dalam iklan di media tradisional. Jadi, harus kampanye Facebook ini tidak bisa berdiri sendiri, melainkan sebuah pendekatan multi channel.

Di dunia maya, aktivitas Facebook perlu didukung oleh website resmi kandidat capres. Semua konten seperti jadual, berita, dan profil kandidat harus terhubung dengan Facebook dan sebaliknya. Melalui cara ini, diharapkan pengakses bisa membedakan antara aktivitas Facebook resmi kandidat dan tiruannya.

Page
Daripada Profile, kandidat capres seharusnya membuat Page. Jumlah teman dalam Profil terbatas maksimal hingga 5.000 orang sedangkan Page tidak terbatas. Page juga menyediakan fasilitas untuk menganalisa demografi dan behavior jaringan teman di dalamnya. Apabila website resmi capres berfungsi sebagai fondasi, Page adalah jangkar kampanye Facebook. Dalam Page inilah semua informasi Capres ditampilkan, seperti homepage pada website.

Wall dan Group
Status dan Wall pada Page bisa digunakan untuk memancing dialog dengan target audience atau menyampaikan opini dan berita-berita singkat. Namun untuk mengkomunikasikan program-program capres, sebaiknya memanfaatkan fasilitas Group. Misalnya, Group untuk program kesehatan, Group untuk program pendididan dan Group untuk program ekonomi. Disinilah pentingnya membuat prioritas dalam mengkomunikasikan program yang benar-benar relevan dengan rakyat (target audience).

Cause
Untuk mengkomunikasikan prinsip-prinsip dan nilai-nilai dari kandidat, bisa dilakukan melalui fasilitas Cause seperti anti-korupsi, turunkan sembako atau pendidikan gratis. Baik Group maupun Cause lebih efektif karena audience terlibat aktif dan dengan suka rela bergabung di dalamnya. Sering-seringlah berfoto dengan audience dan tag mereka dalam halaman Photo.

Notes & Apps 
Berita-berita atau opini yang lebih panjang dapat memanfaatkan Notes, atau juga Link dari berita di website resmi atau dari media sosial yang lain seperti YouTube. Jika kandidat memiliki sumber daya lebih banyak, bisa menciptakan berbagai Facebook Application yang menarik minat target audience dan membuat mereka semakin terlibat dengan komunikasi capres, misalnya aplikasi untuk memilih lima pahlawan nasional favorit. 

Sentuhan personal
Akan tetapi, perlu dicamkan bahwa sangat penting bagi kandidat capres menghidupkan keberadaan Facebook-nya dengan sentuhan personal dan manusiawi. Hal inilah yang banyak dilupakan sejumlah caleg ketika berkomunikasi via Facebook. Pengertian menghidupkan disini tentunya dalam kadar sewajarnya, tidak berlebihan hingga menjadi spam yang mengganggu.

Written by Deriz

April 13, 2009 at 7:10 pm

Posted in New Media

Tagged with , ,

Internet for research collaboration

without comments

The Internet has piled massive amount of data and information about almost everything known in human history, only in the span of 5.000 days. Internet also has becoming ubiquitous, from mainframes, PCs, handhelds and RFIDs (Radio Frequency ID). In short, information is now within anybody’s reach and it will be getting closer.

The challenge people faced today is not getting access to information, thanks to Internet and devices, but in finding the right and relevant information that they really need. People are drowned in the flood of information; they are trapped in thick of thin things, information that is useless: garbage in, garbage out. People need data and information that serves as knowledge. It is like finding a needle in haystack.

Early search engines were “dumb”, only provided information as it is, without any context, just directories. Since Larry Page and Sergei Brin invented Google with its unique algorithm, search engines are much smarter. Google ranked information based on its context, which is calculated by the number of link to that source of information.

Nevertheless, many users under utilize Google’s capability. Most users used Google’s homepage to perform search by typing the desired keyword. Yes, the search results are superior compared to primitive search engines, but for Google, that is just the basics. There are many things users can do with Google’s advanced search, starting form making exclusion, narrowing down, to finding selected file formats.

Practice makes perfect. After sometime using the advanced search, users will adept to the Google’s algorithm. Finally, they can find relevant information in only a few queries. It is like finding a gem in pile of rocks.

Collaboration Research

However, while gem is finder’s keepers, information or knowledge is for share. Unlike gems, if two people trading knowledge, each of them will not get one, but two. That is the reason why collaboration of knowledge is important for empowerment in any context: education, business or research.

Internet has made collaboration easier than before; it is more than network of machines. Internet is the network of people. While Internet 1.0 emphasizes on access, Internet 2.0 underlines the collaboration. The enabler for collaboration is the RSS (Really Simple Syndication). Instead of visiting each site from the search engine queries to look for information, RSS bring the information to the users. This method saves user’s time and effort of getting the right information.

 hat effort will be much more efficient by collaborating with others. After all, the best method of filtering and sorting relevant information from search queries is human intervention. No algorithm could beat human brain for this task (or perhaps not yet considering advances in artificial intelligence). Tools such as Google Reader enables group of users perform collaborative research, sorting search queries more efficiently to find the “gem” of knowledge.

Written by Deriz

April 3, 2009 at 5:13 pm