Isu Interoperabilitas dalam Regional Innovation Forum
Business Software Alliance (BSA) didukung Infocomm Development Authority (IDA) Singapura hari ini menggelar Regional Innovation Forum 2008 di Singapura. Ajang tahunan ini berupa seminar dan diskusi panel yang diikuti lebih dari 110 delegasi dari negara-negara Asia. Latar belakang mereka bermacam-macam, mulai dari instansi pemerintah, institusi pendidikan, perusahaan software, asosiasi industri, penegak hukum dan praktisi HaKI.
Ada tiga tema utama tahun ini:
- Daya saing TI di Asia.
- Kebijakan publik dan pentingnya mempromosikan ketersediaan pilihan di Asia.
- Penanggulangan Cybercrime sebagai kunci sukses pertumbuhan TI yang berkesinambungan di Asia.
Acara ini memang bukan tentang teknologi enterprise yang menjadi favorit saya, tema-temanya lebih berat pada konsep pada tataran nasional, dengan sharing pengalaman dari negara seperti Malaysia, Thailand dan Filipina. Namun setelah mengikuti setengah sesi, saya menemukan topik yang menarik: interoperabilitas.
Interoperabilitas adalah topik hangat di dunia TI saat ini, apalagi jika kita mengaitkannya dengan Microsoft, raksasa peranti lunak yang selama ini dikenal tertutup dan terkesan enggan berbagi teknologi dengan pihak lain sehingga produk Microsoft bisa salin berkecocokan.
Kesan tersebut ditepis, Brad Smith, Senior Vice President dan General Consel Microsoft yang menjadi pembicara di sesi pagi. Microsoft baru-baru ini mengumumkan rencananya untuk lebih terbuka dengan pihak lai untuk mewujudkan interoperabilitas. Raksasa peranti lunak itu akan lebih banyak membagikan dokumen teknis yang selama ini menjadi rahasia dagang kepada publik. Pengumuman ini juga disampaikan melalui situs Microsoft.
“Interoperabilitas ini sangat penting karena peranti komputasi, peranti lunak dan layanan yang digunakan konsumen semakin berkembang dan banyak ragamnya. Industri [TI] menjadi sangat heterogen,” kata Brad. “Kami akan lebih banyak berbagi dokumen teknis yang selama ini menjadi rahasia dagang Microsoft, melalui Internet.”
Harapannya, dengan membuka dokumen teknis tersebut, pihak lain termasuk pengembang open source bisa mencari cara bagaimana produk mereka bisa saling berkecocokan dengan produk Microsoft. Sekilas, terkesan Microsoft ‘mengalah’ dari tuntutan industri untuk membuka diri, apalagi perusahaan itu masih dibayangi tuduhan monopoli dari Komisi Uni Eropa.
Namun, justru Microsoft yang cerdik. Daripada repot-repot ikut dalam berbagai komisi penyusunan standar –yang setelah susah payah standar baru itu belum tentu cocok dengan roadmap Microsoft, lebih baik membuka saja teknologinya kepada publik. Biar publik yang menyesuaikan diri sehingga teknologi Microsoft lama-lama menjadi standar de-facto.
Saya rasa publik –dalam hal ini para pengembang dan software house pada umumnya- tidak akan keberatan karena produk atau layanan mereka kini bisa ‘nyantol’ masuk ke pasar sistem berbasis platform Microsoft yang besar. Namun bagi kompetitor yang sama-sama bermain di tingkat platform atau infrastruktur, akan sulit menyelipkan teknologinya ketika merumuskan sebuah standar.

[...] salah satu topik yang kami diskusikan adalah soal interoperabilitas yang memang jadi hot issue di Regional Innovation Forum 2008 kemarin. Brad mengatakan Microsoft serius membuka diri untuk mewujudkan interoperabilitas teknologinya dengan [...]