TCP-IP: Deriz

Information Technology | Digital Media | E-Business

Archive for March 2008

A day with storage technology guru, CTO and blogger Hu Yoshida

with one comment

Hitachi Data Systems successfully held their second annual conference on Tuesday, March 12. Prior to the conference, Hitachi organized a panel discussion on Compliance and Data Retention Strategies. It was my pleasure to be the moderator of that panel, which presented the prominent figure in storage industry, storage technology guru and Chief Technology Officer (CTO) Hitachi Hu Yoshida. The two other panelist was head of IT at Directorate General of Taxation (DGT) Harry Gumelar, and Brocade consultant David Schmeichel.

The panel started with Harry described e-filing systems in DGT, their policy to retain data at least for 10 years, and DGT future plans that include storing phone records between officials and taxpayers as well as keeping digital version of original documents. DGT will be challenged with managing not only the explosion of data, but the growing of unstructured data. The tax authority had implemented Hitachi USP V as their platform but no archiving system yet.

Hu went next, explained the pitfalls in addressing data management challenges, touching on Hitachi Content Archive Platform, and the most important part: how compliance is not only for the sake of regulators but it is also good for business (Aside for banks and some companies listed in US stock market, Indonesia has a relatively weak regulation on data protection). Last was David talked about security, encription an how Brocade has a unique position that made them most competent in that matter.

After each short presentation by panelist, it was time for panel discussion. DGT e-filing system was a good showcase on how Hitachi and Brocade solutions can fit their future plans. We touched on Hitachi’s approach to virtualization, how USP V enables virtualization even on externally attached, heterogenous tiered storage. We also discussed about how to manage and protect data that was brought out from the core storage to user’s PCs –mostly from business users- because they need the data to do some analysis using spreadsheet application like Excel. Hu answered that Hitachi just recently launched a solution for that, called Hitachi Data Discovery Service.

It was indeed my pleasure to moderate the morning panel.

Blogging

I met Hu once again later in the afternoon, this time in a more informal setting. We talked a lot about blog along with Sulistyawan who manages Indosat’s storage. Hu’s blog is dubbed as one of the 10 most influential blog in storage industry according to Network World while Sulistyawan’s blog on storage is one of the few blogs in Indonesia with a strong, focused content. Hu asked I and Sulistyawan how we find WordPress that we both use and we both agree we chose the blog engine because the flexibility to create and manage topics.

I explained to Hu that according to a study by FeedBurner (now I remember) –which was quoted in BusinessWeek’s article “Children of the Web”- that Jakarta is one of the cities in the third tier of the global blog belt. The blogosphere in Indonesia is very alive. The Pesta Blogger (blogger party) was a successful event with more than 600 bloggers attended. I also mentioned about my colleague Budi Putra who left his journalist post in Koran Tempo to become a professional blogger and founded Asia Blogging Network (ABN).

Well, Hu wrote our conversation in his blog.

 

Written by Deriz

March 16, 2008 at 1:34 am

Posted in Bloggers

Interoperabilitas: babak baru bagi industri software

with 3 comments

Masih di Singapura, hari ini pagi-pagi banget pukul 07.30 waktu setempat saya mewawancarai Bradford Smith, Senior Vice President, General Consel dan Corporate Secretary Microsoft Corp. Ini kali pertama saya berkunjung ke kantor regional Microsoft Asia Pasifik di kawasan Marina Bay, bersebelahan dengan megaproyek Casino yang sedang dibangun.

Sambil minum kopi, salah satu topik yang kami diskusikan adalah soal interoperabilitas yang memang jadi hot issue di Regional Innovation Forum 2008 kemarin. Brad mengatakan Microsoft serius membuka diri untuk mewujudkan interoperabilitas teknologinya dengan pihak lain. Bahkan, dia mengatakan inisiatif ini sebagai babak baru bagi Microsoft dan industri peranti lunak pada umumnya. Benar juga, Microsoft adalah perintis industri peranti lunak dunia. Apa pun yang dilakukan Microsoft pasti berdampak pada industri secara keseluruhan.

Dia menyebut sebagai babak baru karena mengubah cara Microsoft dalam mengembangkan peranti lunak. Inisiatif interoperabilitas ini, “mengubah software engineering karena dalam membuat peranti lunak, Microsoft juga harus menyediakan dokumentasi teknis yang memadai kepada pihak-pihak lain supaya mereka bisa mempelajari dan mencari cara bagaimana mengkoneksikan teknologinya dengan teknologi Microsoft.”

Lebih lanjut Brad mengatakan cara pengembangan seperti itu menunjukkan bahwa peranti lunak kini semakin matang sebagai industri. Sebelumnya, perusahaan peranti lunak mengembangkan teknologinya sendiri-sendiri dan berlomba-lomba menjadikanya sebagai standar de-facto yang tertutup. Namun kini, saatnya membangun ‘jembatan’ antar standar teknologi dari berbagai vendor. Apa yang dijembatani ? Protokol komunikasi dan format data.

Kami berdiskusi panjang lebar, termasuk juga tentang masalah pembajakan peranti lunak di Indonesia dan bagaimana peran asosiasi industri. Wawancara Brad adalah salah satu wawancara terbaik, bahasa mudah dimengerti dibantu dengan analogi ketika menjelaskan suatu hal. Tapi kayaknya dia masih jetlag tuh.

Written by Deriz

March 5, 2008 at 11:12 am

Isu Interoperabilitas dalam Regional Innovation Forum

with one comment

Business Software Alliance (BSA) didukung Infocomm Development Authority (IDA) Singapura hari ini menggelar Regional Innovation Forum 2008 di Singapura. Ajang tahunan ini berupa seminar dan diskusi panel yang diikuti lebih dari 110 delegasi dari negara-negara Asia. Latar belakang mereka bermacam-macam, mulai dari instansi pemerintah, institusi pendidikan, perusahaan software, asosiasi industri, penegak hukum dan praktisi HaKI.

Ada tiga tema utama tahun ini:

  1. Daya saing TI di Asia.
  2. Kebijakan publik dan pentingnya mempromosikan ketersediaan pilihan di Asia.
  3. Penanggulangan Cybercrime sebagai kunci sukses pertumbuhan TI yang berkesinambungan di Asia.

Acara ini memang bukan tentang teknologi enterprise yang menjadi favorit saya, tema-temanya lebih berat pada konsep pada tataran nasional, dengan sharing pengalaman dari negara seperti Malaysia, Thailand dan Filipina. Namun setelah mengikuti setengah sesi, saya menemukan topik yang menarik: interoperabilitas.

Interoperabilitas adalah topik hangat di dunia TI saat ini, apalagi jika kita mengaitkannya dengan Microsoft, raksasa peranti lunak yang selama ini dikenal tertutup dan terkesan enggan berbagi teknologi dengan pihak lain sehingga produk Microsoft bisa salin berkecocokan.

Kesan tersebut ditepis, Brad Smith, Senior Vice President dan General Consel Microsoft yang menjadi pembicara di sesi pagi. Microsoft baru-baru ini mengumumkan rencananya untuk lebih terbuka dengan pihak lai untuk mewujudkan interoperabilitas. Raksasa peranti lunak itu akan lebih banyak membagikan dokumen teknis yang selama ini menjadi rahasia dagang kepada publik. Pengumuman ini juga disampaikan melalui situs Microsoft.

“Interoperabilitas ini sangat penting karena peranti komputasi, peranti lunak dan layanan yang digunakan konsumen semakin berkembang dan banyak ragamnya. Industri [TI] menjadi sangat heterogen,” kata Brad. “Kami akan lebih banyak berbagi dokumen teknis yang selama ini menjadi rahasia dagang Microsoft, melalui Internet.”

Harapannya, dengan membuka dokumen teknis tersebut, pihak lain termasuk pengembang open source bisa mencari cara bagaimana produk mereka bisa saling berkecocokan dengan produk Microsoft. Sekilas, terkesan Microsoft ‘mengalah’ dari tuntutan industri untuk membuka diri, apalagi perusahaan itu masih dibayangi tuduhan monopoli dari Komisi Uni Eropa.

Namun, justru Microsoft yang cerdik. Daripada repot-repot ikut dalam berbagai komisi penyusunan standar –yang setelah susah payah standar baru itu belum tentu cocok dengan roadmap Microsoft, lebih baik membuka saja teknologinya kepada publik. Biar publik yang menyesuaikan diri sehingga teknologi Microsoft lama-lama menjadi standar de-facto.

Saya rasa publik –dalam hal ini para pengembang dan software house pada umumnya- tidak akan keberatan karena produk atau layanan mereka kini bisa ‘nyantol’ masuk ke pasar sistem berbasis platform Microsoft yang besar. Namun bagi kompetitor yang sama-sama bermain di tingkat platform atau infrastruktur, akan sulit menyelipkan teknologinya ketika merumuskan sebuah standar.

Written by Deriz

March 4, 2008 at 2:57 pm