TCP-IP: Deriz

A day with storage technology guru, CTO and blogger Hu Yoshida

Posted in English Post, Infocomm Indonesia, Simply me by syahpatria on March 16th, 2008

Hitachi Data Systems successfully held their second annual conference on Tuesday, March 12. Prior to the conference, Hitachi organized a panel discussion on Compliance and Data Retention Strategies. It was my pleasure to be the moderator of that panel, which presented the prominent figure in storage industry, storage technology guru and Chief Technology Officer (CTO) Hitachi Hu Yoshida. The two other panelist was head of IT at Directorate General of Taxation (DGT) Harry Gumelar, and Brocade consultant David Schmeichel.

The panel started with Harry described e-filing systems in DGT, their policy to retain data at least for 10 years, and DGT future plans that include storing phone records between officials and taxpayers as well as keeping digital version of original documents. DGT will be challenged with managing not only the explosion of data, but the growing of unstructured data. The tax authority had implemented Hitachi USP V as their platform but no archiving system yet.

Hu went next, explained the pitfalls in addressing data management challenges, touching on Hitachi Content Archive Platform, and the most important part: how compliance is not only for the sake of regulators but it is also good for business (Aside for banks and some companies listed in US stock market, Indonesia has a relatively weak regulation on data protection). Last was David talked about security, encription an how Brocade has a unique position that made them most competent in that matter.

After each short presentation by panelist, it was time for panel discussion. DGT e-filing system was a good showcase on how Hitachi and Brocade solutions can fit their future plans. We touched on Hitachi’s approach to virtualization, how USP V enables virtualization even on externally attached, heterogenous tiered storage. We also discussed about how to manage and protect data that was brought out from the core storage to user’s PCs –mostly from business users- because they need the data to do some analysis using spreadsheet application like Excel. Hu answered that Hitachi just recently launched a solution for that, called Hitachi Data Discovery Service.

It was indeed my pleasure to moderate the morning panel.

Blogging

I met Hu once again later in the afternoon, this time in a more informal setting. We talked a lot about blog along with Sulistyawan who manages Indosat’s storage. Hu’s blog is dubbed as one of the 10 most influential blog in storage industry according to Network World while Sulistyawan’s blog on storage is one of the few blogs in Indonesia with a strong, focused content. Hu asked I and Sulistyawan how we find WordPress that we both use and we both agree we chose the blog engine because the flexibility to create and manage topics.

I explained to Hu that according to a study by FeedBurner (now I remember) –which was quoted in BusinessWeek’s article “Children of the Web”- that Jakarta is one of the cities in the third tier of the global blog belt. The blogosphere in Indonesia is very alive. The Pesta Blogger (blogger party) was a successful event with more than 600 bloggers attended. I also mentioned about my colleague Budi Putra who left his journalist post in Koran Tempo to become a professional blogger and founded Asia Blogging Network (ABN).

Well, Hu wrote our conversation in his blog.

Interoperabilitas: babak baru bagi industri software

Posted in Posting Indonesia by syahpatria on March 5th, 2008

Masih di Singapura, hari ini pagi-pagi banget pukul 07.30 waktu setempat saya mewawancarai Bradford Smith, Senior Vice President, General Consel dan Corporate Secretary Microsoft Corp. Ini kali pertama saya berkunjung ke kantor regional Microsoft Asia Pasifik di kawasan Marina Bay, bersebelahan dengan megaproyek Casino yang sedang dibangun.

Sambil minum kopi, salah satu topik yang kami diskusikan adalah soal interoperabilitas yang memang jadi hot issue di Regional Innovation Forum 2008 kemarin. Brad mengatakan Microsoft serius membuka diri untuk mewujudkan interoperabilitas teknologinya dengan pihak lain. Bahkan, dia mengatakan inisiatif ini sebagai babak baru bagi Microsoft dan industri peranti lunak pada umumnya. Benar juga, Microsoft adalah perintis industri peranti lunak dunia. Apa pun yang dilakukan Microsoft pasti berdampak pada industri secara keseluruhan.

Dia menyebut sebagai babak baru karena mengubah cara Microsoft dalam mengembangkan peranti lunak. Inisiatif interoperabilitas ini, “mengubah software engineering karena dalam membuat peranti lunak, Microsoft juga harus menyediakan dokumentasi teknis yang memadai kepada pihak-pihak lain supaya mereka bisa mempelajari dan mencari cara bagaimana mengkoneksikan teknologinya dengan teknologi Microsoft.”

Lebih lanjut Brad mengatakan cara pengembangan seperti itu menunjukkan bahwa peranti lunak kini semakin matang sebagai industri. Sebelumnya, perusahaan peranti lunak mengembangkan teknologinya sendiri-sendiri dan berlomba-lomba menjadikanya sebagai standar de-facto yang tertutup. Namun kini, saatnya membangun ‘jembatan’ antar standar teknologi dari berbagai vendor. Apa yang dijembatani ? Protokol komunikasi dan format data.

Kami berdiskusi panjang lebar, termasuk juga tentang masalah pembajakan peranti lunak di Indonesia dan bagaimana peran asosiasi industri. Wawancara Brad adalah salah satu wawancara terbaik, bahasa mudah dimengerti dibantu dengan analogi ketika menjelaskan suatu hal. Tapi kayaknya dia masih jetlag tuh.

Isu Interoperabilitas dalam Regional Innovation Forum

Posted in Posting Indonesia, Travelog by syahpatria on March 4th, 2008

Business Software Alliance (BSA) didukung Infocomm Development Authority (IDA) Singapura hari ini menggelar Regional Innovation Forum 2008 di Singapura. Ajang tahunan ini berupa seminar dan diskusi panel yang diikuti lebih dari 110 delegasi dari negara-negara Asia. Latar belakang mereka bermacam-macam, mulai dari instansi pemerintah, institusi pendidikan, perusahaan software, asosiasi industri, penegak hukum dan praktisi HaKI.

Ada tiga tema utama tahun ini:

  1. Daya saing TI di Asia.
  2. Kebijakan publik dan pentingnya mempromosikan ketersediaan pilihan di Asia.
  3. Penanggulangan Cybercrime sebagai kunci sukses pertumbuhan TI yang berkesinambungan di Asia.

Acara ini memang bukan tentang teknologi enterprise yang menjadi favorit saya, tema-temanya lebih berat pada konsep pada tataran nasional, dengan sharing pengalaman dari negara seperti Malaysia, Thailand dan Filipina. Namun setelah mengikuti setengah sesi, saya menemukan topik yang menarik: interoperabilitas.

Interoperabilitas adalah topik hangat di dunia TI saat ini, apalagi jika kita mengaitkannya dengan Microsoft, raksasa peranti lunak yang selama ini dikenal tertutup dan terkesan enggan berbagi teknologi dengan pihak lain sehingga produk Microsoft bisa salin berkecocokan.

Kesan tersebut ditepis, Brad Smith, Senior Vice President dan General Consel Microsoft yang menjadi pembicara di sesi pagi. Microsoft baru-baru ini mengumumkan rencananya untuk lebih terbuka dengan pihak lai untuk mewujudkan interoperabilitas. Raksasa peranti lunak itu akan lebih banyak membagikan dokumen teknis yang selama ini menjadi rahasia dagang kepada publik. Pengumuman ini juga disampaikan melalui situs Microsoft.

“Interoperabilitas ini sangat penting karena peranti komputasi, peranti lunak dan layanan yang digunakan konsumen semakin berkembang dan banyak ragamnya. Industri [TI] menjadi sangat heterogen,” kata Brad. “Kami akan lebih banyak berbagi dokumen teknis yang selama ini menjadi rahasia dagang Microsoft, melalui Internet.”

Harapannya, dengan membuka dokumen teknis tersebut, pihak lain termasuk pengembang open source bisa mencari cara bagaimana produk mereka bisa saling berkecocokan dengan produk Microsoft. Sekilas, terkesan Microsoft ‘mengalah’ dari tuntutan industri untuk membuka diri, apalagi perusahaan itu masih dibayangi tuduhan monopoli dari Komisi Uni Eropa.

Namun, justru Microsoft yang cerdik. Daripada repot-repot ikut dalam berbagai komisi penyusunan standar –yang setelah susah payah standar baru itu belum tentu cocok dengan roadmap Microsoft, lebih baik membuka saja teknologinya kepada publik. Biar publik yang menyesuaikan diri sehingga teknologi Microsoft lama-lama menjadi standar de-facto.

Saya rasa publik –dalam hal ini para pengembang dan software house pada umumnya- tidak akan keberatan karena produk atau layanan mereka kini bisa ‘nyantol’ masuk ke pasar sistem berbasis platform Microsoft yang besar. Namun bagi kompetitor yang sama-sama bermain di tingkat platform atau infrastruktur, akan sulit menyelipkan teknologinya ketika merumuskan sebuah standar.

Membuat business plan….(lagi)

Posted in Bisnis Indonesia Online, Posting Indonesia, Simply me by syahpatria on January 4th, 2008

Setelah pergantian tahun, saya pikir sudah tidak ada lagi tugas-tugas perencanaan tahunan yang menyita waktu hampir dua bulan terakhir penghujung tahun 2007. Perencanaan yang paling bikin pusing waktu itu adalah membuat business plan untuk layanan online, terutama pada bagian menerjemahkan visi-misi-action plan dalam PowerPoint ke dalam bahasa keuangan di Excel.

Ternyata masih ada satu business plan lagi yang harus saya buat, kali ini untuk layanan mobile. Ini lebih sulit dibandingkan layanan online karena masih relatif baru di Indonesia sehingga sulit mendapatkan data-data lokal. Dari penelusuran di Google, ternyata model bisnis layanan online dan mobile itu juga ada perbedaan, demikian dengan teknologinya. Layanan mobile teknologinya jauh lebih rumit daripada layanan online.

Kalau data-data yang kita gunakan dalam business plan tidak bisa diandalkan, maka bisnis yang akan kita rencanakan termasuk bisnis berisiko tinggi. Namun menurut saya, kesulitan mencari data yang akurat itu wajar saja dalam bisnis yang berbasis teknologi, apalagi yang mengandalkan teknologi relatif baru. Namanya juga sesuatu yang baru.

Nah, kalau bisnis kita tergolong berisiko tinggi, maka dalam business plan harus dijelaskan betul risikonya dan bagaimana mengelola dan menanggulanginya. Tingkat risiko ini lalu jangan disamakan dengan tingkat kelayakan bisnis. Bisnis yang berisiko tinggi belum tentu tidak layak (feasible). Dari logika bisnisnya bisa saja sebuah bisnis itu sebenarnya layak dijalankan, hanya saja asumsi-asumsinya bisa meleset karena itu tadi, ketiadaan data. Dan ini yang harus dijelaskan kepada calon investor.

Wanted: General Manager for Information Technology (GM-IT)

Posted in Bisnis Indonesia Online, English Post, Media by syahpatria on January 3rd, 2008

Bisnis Indonesia is recruiting !

Your primary challenge will be organizing more than 20 years of business information and make them ready for delivery through multimedia channels preferred by users: print, email, online, mobile, data feeds, or terminals. Moreover, this ‘pool of information’ should be shareable by all subsidiaries and corporate customers.

Bisnis Indonesia is the largest business and economy newspaper in Indonesia, first edition published December 14th, 1985. We are living witness of Indonesia’s economy ups and downs, from the opening of Jakarta stock exchange followed by booming in stock market, the rise of conglomerates, to the ‘97 - ‘98 economic crisis, the IMF’s years and the reformation era. Through the years, we have collected business and economy information ranging from news and articles, photos, to economy and financial historical data. Information has become our most valuable asset.

As Bisnis Indonesia shifts from a mere newspaper publisher to information provider, we need a strong foundation for acquiring, sharing, storing, archiving, organizing, securing and delivering information. You can name it anything : knowledge management system, content management system or whatever, but the purpose is the same: capitalizing on information.

You will work in a challenging environment as Bisnis Indonesia undergo a paradigm shift. We are offering you the opportunity to become the first IT professional in Indonesia that really manages information as the product, where business really depends on it. Information is more than supporting business. Information is the business.

If you think you got what it takes, send a complete resume and recent photograph to deriz.syarief [at] bisnis.co.id. International applicants are welcome !

My resolution for 2008

Posted in English Post, Simply me by syahpatria on January 2nd, 2008

Once again, happy new year 2008.

It’s been a year since I started blogging. This blog was my first, followed several months later by Infocomm Indonesia and Digital Enterprise –both at Asia Blogging Network (ABN). Yes, to start blogging was one of my 2007 resolutions. But so far, I’m far of being a consistent blogger. My work had been entangling me. So this year, I’ll try to be as consistent as possible to post in my three blogs.

Another of my 2007 resolutions is to reduce playing games. Well, some of you might now I’m a game addict. I can proudly say I’ve managed to meet this resolution. But it’s not that I’m beeing discipline or something, it’s just my work don’t left me enough time to play. So as long as I’m kept busy, no playing games, and I’m well satisfied with that.

But, so much working had its downside: no time to do sports! And the effects of not exercising for long period of time it’s worse than games addiction. My recent medical check up result (paid by the office of course) reveals it all. I’m not going to tell you, but the point is that I have to excercise: something I hadn’t do regularly for nearly five year, since I joined this company! I can remember the times when three or four out of seven days in a week were spent in either soccer fields, basketball courts, or jogging tracks. All suddenly stops. So another 2008 resolution is: exercise at least three times in a week.

Well. Let see. Tell me your resolution.

Merencanakan bisnis: antara visi dan realitas

Posted in Posting Indonesia, Simply me by syahpatria on December 7th, 2007

Senang bisa kembali nge-blog setelah hampir satu bulan tidak sempat posting. Harap maklum, bulan-bulan menjelang akhir tahun ini adalah masa-masa perencanaan 2008, termasuk anggaran belanja dan proyeksi pendapatan. Membuat perencanaan ini sangat mudah, boleh sedikit berkhayal tentang program dan rencana pengembangan produk yang akan dikerjakan tahun depan. Nongkrong di depan laptop sambil minum kopi pun jadi, hanya butuh beberapa jam saja.

Namun begitu masuk anggaran, yakni ‘meng-angka-kan’ rencana-rencana itu dan proyeksi pendapatan, bukan main sulitnya. Hal ini semakin sulit jika data tidak tersedia secara seketika, atau harus menunggu dari divisi yang lain. Butuh konsentrasi penuh. Ibaratnya kalau dalam menulis kita masih bisa diganggu sebentar, tidak demikian halnya dengan membuat anggaran. Salah pada satu hal saja bisa merembet ke yang lain.

Dari pengalaman ini saya belajar bahwa ada perbedaan besar antara MS Powerpoint dan MS Excel –dua software yang saya pakai membuat perencanaan. Di Powerpoint, rencana-rencana bisnis bisa tampil sangat bagus, menarik, muluk-muluk dan meyakinkan. Presentasi Powerpoint yang bagus bahkan bisa memukau banyak orang dan mengundang tepuk tangan.

Tapi rencana-rencana itu bisa terlihat lain ketika masuk ke MS Excel, tidak sebagus seperti di Powerpoint. Jika Powerpoint ini berkhayal, Excel itu realistis. Dalam banyak kasus, seringkali perencanaan yang tampil mentereng di Powerpoint berakhir dengan angka merah dalam kurung, atau angka minus di Excel yang artinya rencana itu tidak feasible. Ada jurang yang lebar antara Powerpoint dan Excel, antara khayalan dan realita bisnis. Celakanya, seringkali saya memergoki perencanaan seperti itu: bagus di Powerpoint tapi jadi jelek di Excel.

Bukan berarti Powerpoint itu tidak berguna. Sebuah perencanaan bisnis yang hanya disajikan dalam Powerpoint hanyalah omong kosong. Sebaliknya bermodalkan Excel saja membuat angka-angka di dalamnya kehilangan konteks karena hanya peduli minus atau plus, dan seolah-olah membuat perencanaan tanpa visi, hanya sekedar angka-angka saja, hambar, tidak ada nuansa, semangat dan ambisi.

Jadi, perencanaan bisnis yang baik adalah yang mampu mempersempit kesenjangan antara Powerpoint dan Excel. Boleh berangan-angan dan ambisius, tapi harus realistis.

Ke Oracle OpenWorld 2007

Posted in Simply me, Travelog by syahpatria on November 12th, 2007

Saat ini saya ada di San Francisco, California untuk mengikuti Oracle OpenWorld 2007. Ini kunjungan yang kedua setelah OpenWorld 2005 di tempat yang sama. Bedanya, kalau pada 2005 lalu tugas saya sebagai reporter hanya meliput acara tersebut, kini ada misi tambahan yakni belajar sebanyak mungkin tentang Oracle, Web dan dotcom dan bagaimana teknologi itu bisa mendukung media digital di Bisnis Indonesia.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, OpenWorld 2007 berlangsung di Moscone Center dan sekitarnya selama empat hari, 11 - 13 November 2007. Banyak CEO dari berbagai perusahaan TI global akan angkat bicara pada keynote speech: CEO AMD Hector Ruiz, CEO Hewlett-Packard (HP) Mark Hurd, CEO Intel Paul Otellini, CEO Sun Microsystems Jonathan Schwartz, CEO Dell Michael Dell dan tentu saja CEO Oracle Larry Ellison.

(more…)

Blog baru: Digital Enterprise

Posted in Digital Enterprise, Media, Posting Indonesia by syahpatria on November 12th, 2007

Sudah lama saya punya niat menulis blog yang bercerita tentang bagaimana teknologi informasi bisa mendukung bisnis. Masalahnya bukan keterbatasan waktu, tapi saya belum menemukan ‘rumah’ yang cocok untuk blog tersebut. Ada sih WordPress, Blogspot atau blog umum yang lain, tetapi kok saya kurang yakin untuk menuliskan sesuatu yang serius dari sana.

Pernah juga terpikir membuat website sendiri, tapi saya tidak tahu bagaimana caranya dan untuk belajar dulu saya rasa kok repot banget ya. Malah gak jadi-jadi ngeblog-nya. Terus mengelola sendiri, kalau ada masalah saya tidak tahu harus minta tolong ke siapa ? Ada satu teman saya pernah punya blog sendiri, tiba-tiba kelimpungan ketika server diserang hacker dan semua postingan di blog itu lenyap. Untung masih ada arsip yang di-cache Google. Itu saja tidak semua postingan bisa dipulihkan.

Beruntung ada AsiaBlogging Network (ABN). Saya bisa fokus ngeblog tanpa perlu pusing atau khawatir memikirkan hal-hal teknis. Mesin WordPress yang dipakai ABN juga familiar buat saya.

Blog ini saya namakan ‘Digital Enterprise’ karena di era knowledge-based economy ini, informasi adalah aset bisnis paling penting. Lebih penting daripada modal atau aset fisik. Nah, seiring perkembangan teknologi, informasi kini tersimpan dalam bentuk digital. Digitalisasi informasi ini memudahkan penyimpanan, penyebaran dan pengolahan informasi untuk mendatangkan manfaat sebesar mungkin bagi kinerja bisnis, Saya percaya, bisnis yang akan bertahan adalah bisnis yang aset terbesarnya adalah informasi: bisnis yang menjadi Digital Enterprise.

Ke Digital Enterprise Blog

Tagged with: ,

Zend PHP has landed!

Posted in English Post, Infocomm Indonesia by syahpatria on October 26th, 2007

PHP LogoThe timing couldn’t be more perfect as Indonesia experienced the second surge of dotcom industry that will surely fuel up demand for enterprise class PHP services and solutions.
In early October 2007 Zend had appointed PT Rynet Cipta Teknologi as reseller for Indonesia, part of its distribution network of 27 resellers in 23 countries. It is most likely Rynet will also serve Asean market as there are only two resellers for the region. But I think Rynet also has good chance in Malay spoken countries than the other Thailand-based reseller.

Of course Rynet first have to focus on local market. There has been significant demand of enterprise class PHP solutions in Indonesia since version 3 was introduced a few years ago. Enterprises -realizing the capability of PHP mainly for web applications- had been sending their developers to PHP courses but most of them are still in doubt, citing lack of professional support. They ended up most using Java instead; PHP was only a “toy” for IT department.

Read the rest of this post in Asia Blogging Network

Tagged with: , , ,